Pentas Study Teater Nisbi “MARJO” Naskah karya dan disutradarai oleh : Enggar Dwi Mahendra

Cinta adalah anugerah paling besar yang diberikan Tuhan pada manusia. Anugerah yang rasanya semua Tuhan dari semua agama sepakat tanpa perdebatan bahwa untuk bisa menemui-Nya di surga nanti, rasa cinta kepada-Nya-lah yang akan mengantarkan kita. Tuhan itu Maha Mencinta. Tapi cinta kasih Tuhan kepada makhluk-Nya tentu tidak sesulit realitas cinta kasih di dunia manusia. Karena cinta Tuhan tidak memiliki faktor-faktor yang bisa melunturkan. Sedangkan di dunia manusia banyak kerikil dan tiang-tiang beton besar yang bisa menghadang cinta.

Dalam arti sempit, cinta diartikan sebagai hubungan kasih antara dua manusia. Dengan lingkup sesempit itu saja, hambatan bercinta masih sangat banyak. Itulah yang diangkat menjadi topik pementasan Teater Nisbi pada 27 Mei 2016 lalu. Lebih menarik lagi karena bukan naskah-naskah cinta macam Romeo dan Juliet, Trisnan-Isolde, atau Ramayana yang diangkat. Dengan berani Enggar D.M  sebagai sutradara menyajikan kisah cinta anak desa dengan anak  kota dan juga kasih sayang orang tua yang real disajikan seperti halnya dikehidupan nyata. “MARJO”  judulnya. Dari judulnya, secara ekplisit pentas teater ini mengangkat cerita soal kesulitan menjadi anak perantau yang akhirnya pemikiran-pemikiran yang tidak harus terfikirkan menjadi kejadian yang menyulitkan. Tidak hanya MARJO itu sendiri sebagai pemeran utama bahkan orang tuapun atau dikenal dengan Bapak dan Ibu itupun merasakan kesulitan didalam kehidupannya seperti halnya di ekonomi, pemantauan anak dsb. Namun dalam pentas berdurasi sekitar 40 menit ini, mereka memaafkan apa yang sudah dilakukan anaknya tetapi berbalik maksut dari kedua orang tuanya, dimana MARJO tetap tidak mau menerima apa yang sudah terjadi, Marjo tetap bersikuku dengan kemauannya, ketika ending pementasan ini.

Hamil di luar nikah memang menjadi salah satu perdebatan yang panas didalam sebuah keluarga, yang menjadikan aib pada keluarga itu sendiri. Yah benar, permasalahan yang dialami MARJO  adalah menghamili ANI sebagai pasangan MARJO, dimana MARJO tidak mau bertanggung jawab. Permasalahan ini akan selalu menjadi isu yang memalukan untuk diperbincangkan di negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak ini. Sebagian orang dengan ilmu agama dan pengetahuan yang cetek, hanya akan menganggap itu dosa dan memperbesar masalah-maslah seperti itu.

Dari sekian banyak kesulitan yang hadir dari berbagai aspek kajian, baik ilmiah maupun non-ilmiah, naskah yang dimainkan ini yang mengangkat masalah sosial. Mengangkat moral atau agama, dan psikologi.

 

 

 

Sosial

Lampu gedung Teater NISBI yang temaram mulai padam. Penonton hening. Suara musik gamelan menghentak keras. Selepas itu panggung teater menyala dengan warna biru redup. Di suasana itulah bapak dan ibuk berangkat untuk menemui MARJO sesekali ada perdebatan antara mereka berdua. Ibu mengajak Bapak yang tampaknya terburu-buru untuk sesegera mungkin menemui MARJO. Terburu-burunya menurut sang sutradara adalah salah satu media untuk bersosialisasi. Dimana selain kangen, khawatir ibu juga merasakan malu terhadap orang yang membantunya mengantar kerumah MARJO. Dia adalah pak Bidin orang yang mempunyai pendidikan lumayan panjang dibandingkan orang desa lainnya seperti halnya Bapak dan Ibu MARJO. Malu atau istilah jawanya sungkan itulah yang ingin disampaikan sutradara, bahwa kita jangan memandang remeh orang lain karena kita yang meminta bantuan ataupun sebaliknya.

 

Moral

Begitu suasana berubah, cerita dimulai dengan tokoh Ani yang marah atas ketidak mauan MARJO bertanggung jawab. Dengan alasan malu, itu aib yang tidak perlu diberitahukan kesemuanya, yang intinya tidak mau bertanggung jawab. Berlatar di sebuah rumah atau kontrakan MARJO. Dan Ini cerita yang menarik, karena moral dan agama selama ini menjadi hambatan. Dan dalam cerita ini, Pak bidin yang kelihatan orang yang pinter suka bercanda dan slengek.an itu dibuat marah atas apa yang sudah dikorbankannya mulai dari membantu biaya kuliah marjo, kehidupan keluarga marjo tetapi nyatanya menurut pak bidin itu tidak dihargai, karena juga pak bidin ingin menjodohkan anaknya dengan marjo, disitu martabat seorang orang tua mulai tidak dihargai, di injak-injak. Pak bidin pulang dengan marah-marah, dan amarah itupun pindah ke Bapak hingga mendorong marjo jatuh kelantai dimana amarah seorang bapak yang sudah memuncak tanpa bisa terkendali dengan kekecewaan yang sudah terlalu banyak dirasakannya

 

Psikologi

Bapak dan Ibu yang malu merasa gagal mendidik anak, MARJO yang merusak semua cita-cita di masa depan, Ani yang tidak dapat menjaga kesucian dirinya, Pak Bidin yang merasa dihina dengan apa yang telah diberikan tetapi dibalas dengan tidak sepantasnya. Itu semua adalah keadaan psikologis yang mereka rasakan. Mengenai dampak, pasti itu akan berdampak secara kehidupan, dimana berdampak di lingkungan itu sendiri.

Di akhir cerita ini permasalahan pasangan MARJO dan Ani masih menggantung dimana harapan sutradara biarkanlah penonton yang menyimpulkan akhir adegan ini mau dibawah kemana.

Demikianlah  pementasan study teater nisbi pada tgl 27 mei 2016, didalam pementasan ini selain pelajaran dari isi cerita dan proses keaktoran, artistik. Kami juga mendapatkan pelajaran dari kepanitiaan yaitu hasil bukanlah sebuah nilai akhir dari sebuah pertunjukan, tetapi nilai sesungguhnya berada pada proses. Proses yang baik adalah ketika segalanya siap untuk di tindaki.

Kami akan selalu siap karna NISBI !!! KAMI !!!                 

Terimakasih,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s