Teater NISBI TR/TC XXVI

Salam budaya!!.

Hay hay semua para pecinta seni teater seluruh dunia. Kali ini Teater NISBI akan berbagi cerita seru seputar diklat ruang dan diklat lapang. Ada yang tahu sebelum nya apa itu diklat ruang dan diklat lapang?. Diklat ruang adalah proses belajar mengenai keteateran dan keorganisasian dalam ruang nah kalau diklat lapang pengertian nya hampir sama hanya saja yang membedakan diklat lapang ialah proses belajar di luar ruangan dengan tujuan menyatu dengan alam.Sebelum kita membahas mengenai diklat lapang lebih dalam . Mari kita membahas mengenai diklat ruang Teater NISBI atau biasa disebut dengan training room, kegiatan ini berlangsung selama 7 hari dan yang pasti setiap harinya para peserta TR (training room) mendapatkan materi yang berbeda dan sangat menarik pastinya. Turut berbangga juga karena panitia begitu pintar dalam mengemas acara TR ini dengan begitu kreatif sehingga para peserta pun selalu bersemangat untuk menjalani TR yang memang wajib diikuti para peserta Teater NISBI yang akan dilantik menjadi anggota muda dan diangkat menjadi anggota tetap.

Calon anggota muda itu sendiri adalah para anggota baru dari mahasiswa baru yang ingin ikut berproses dalam organisasi keteateran ataupun pemetasn sedangkan anggota anggota muda muda yang akan diangkat menjadi anggota tetap adalah anggota  yang sudah berproses selama satu tahun penuh didalam organisasi maupun pementasan teater NISBI. Sudah tahu kan sekarang perbedaan antara anggota muda dan anggota tetap teater NISBI. Oke sekarang kembali ke soal pertama, mengenai materi TR.  Kalian pasti sudah tau apasaja yang akan dibahas dalam organisasi keteateran, ya jelas bahasan nya tidak jauh dari keaktoran, penyutradaraan, tata panggung dan tata lampu, rmake up dan kostum, dan juga seni musik. Semua peserta TR mendapat kan materi-materi tersebut pada saat training room berlangsung. Dan yang pasti Teater NISBI mendatangkan pemateri-pemateri yang sudah benar-benar berpengalaman di bidang keteateran. Seperti halnya Mas Sindu, Mas Roni, Mbak Wiwiek, Mas Kris, Mas Anang, Mas Aka, dan juga yang spesial Mas Joni selaku orang pertama yang mendirikan Teater NISBI yang memberikan materi keorganisasian di hari terakhir TR.

Selanjutnya kita masuk ke training camp atau diklat lapang. Seperti pengertian diatas diklat lapang adalah proses belajar di luar yang bertujuan agar bisa menyatu dengan alam. Diklat lapang teater NISBI tahun ini berlokasi di Coban Talun. Banyak pengalaman baru pada saat proses TC (training camp) berlangsung. Disana kita benar-benar belajar apa itu bekerjasama, disiplin waktu, menghargai alam sekitar, menghargai sesama. Berawal dari membangun tenda, memasang obor yang bebentuk huruf T yang terbuat dari bambu disekeliling camp. Makan bersama, dan mengikuti materi walau cuaca yang tidak bersahabat tidak mematahkan semangat para peserta untuk tetap mengikuti materi. Dan sebagai penutup berakhirnya TC dalam organisasi teater NISBI memiliki tradisi makan bubur semangkuk bersama-sama dan segelas susu untuk bersama-sama. Bagaimana serukan perjalanan seputar TR/TC yang ke 26 teater NISBI ini. kalau begitu tunggu cerita proses yang selanjutnya ya.

“dengan rendah hati kami hanya ingin jadi orang baik dan belajar pada guru yang terserak dimana-mana.” NISBI…Kami !!

dscn7855

Training Camp Teater NISBI.

dscn2777

Training Room Teater NISBI

Pentas Study Teater Nisbi “MARJO” Naskah karya dan disutradarai oleh : Enggar Dwi Mahendra

DSC_0448

Cinta adalah anugerah paling besar yang diberikan Tuhan pada manusia. Anugerah yang rasanya semua Tuhan dari semua agama sepakat tanpa perdebatan bahwa untuk bisa menemui-Nya di surga nanti, rasa cinta kepada-Nya-lah yang akan mengantarkan kita. Tuhan itu Maha Mencinta. Tapi cinta kasih Tuhan kepada makhluk-Nya tentu tidak sesulit realitas cinta kasih di dunia manusia. Karena cinta Tuhan tidak memiliki faktor-faktor yang bisa melunturkan. Sedangkan di dunia manusia banyak kerikil dan tiang-tiang beton besar yang bisa menghadang cinta.

Dalam arti sempit, cinta diartikan sebagai hubungan kasih antara dua manusia. Dengan lingkup sesempit itu saja, hambatan bercinta masih sangat banyak. Itulah yang diangkat menjadi topik pementasan Teater Nisbi pada 27 Mei 2016 lalu. Lebih menarik lagi karena bukan naskah-naskah cinta macam Romeo dan Juliet, Trisnan-Isolde, atau Ramayana yang diangkat. Dengan berani Enggar D.M  sebagai sutradara menyajikan kisah cinta anak desa dengan anak  kota dan juga kasih sayang orang tua yang real disajikan seperti halnya dikehidupan nyata. “MARJO”  judulnya. Dari judulnya, secara ekplisit pentas teater ini mengangkat cerita soal kesulitan menjadi anak perantau yang akhirnya pemikiran-pemikiran yang tidak harus terfikirkan menjadi kejadian yang menyulitkan. Tidak hanya MARJO itu sendiri sebagai pemeran utama bahkan orang tuapun atau dikenal dengan Bapak dan Ibu itupun merasakan kesulitan didalam kehidupannya seperti halnya di ekonomi, pemantauan anak dsb. Namun dalam pentas berdurasi sekitar 40 menit ini, mereka memaafkan apa yang sudah dilakukan anaknya tetapi berbalik maksut dari kedua orang tuanya, dimana MARJO tetap tidak mau menerima apa yang sudah terjadi, Marjo tetap bersikuku dengan kemauannya, ketika ending pementasan ini.

Hamil di luar nikah memang menjadi salah satu perdebatan yang panas didalam sebuah keluarga, yang menjadikan aib pada keluarga itu sendiri. Yah benar, permasalahan yang dialami MARJO  adalah menghamili ANI sebagai pasangan MARJO, dimana MARJO tidak mau bertanggung jawab. Permasalahan ini akan selalu menjadi isu yang memalukan untuk diperbincangkan di negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak ini. Sebagian orang dengan ilmu agama dan pengetahuan yang cetek, hanya akan menganggap itu dosa dan memperbesar masalah-maslah seperti itu.

Dari sekian banyak kesulitan yang hadir dari berbagai aspek kajian, baik ilmiah maupun non-ilmiah, naskah yang dimainkan ini yang mengangkat masalah sosial. Mengangkat moral atau agama, dan psikologi.

 

 

 

Sosial

Lampu gedung Teater NISBI yang temaram mulai padam. Penonton hening. Suara musik gamelan menghentak keras. Selepas itu panggung teater menyala dengan warna biru redup. Di suasana itulah bapak dan ibuk berangkat untuk menemui MARJO sesekali ada perdebatan antara mereka berdua. Ibu mengajak Bapak yang tampaknya terburu-buru untuk sesegera mungkin menemui MARJO. Terburu-burunya menurut sang sutradara adalah salah satu media untuk bersosialisasi. Dimana selain kangen, khawatir ibu juga merasakan malu terhadap orang yang membantunya mengantar kerumah MARJO. Dia adalah pak Bidin orang yang mempunyai pendidikan lumayan panjang dibandingkan orang desa lainnya seperti halnya Bapak dan Ibu MARJO. Malu atau istilah jawanya sungkan itulah yang ingin disampaikan sutradara, bahwa kita jangan memandang remeh orang lain karena kita yang meminta bantuan ataupun sebaliknya.

 

Moral

Begitu suasana berubah, cerita dimulai dengan tokoh Ani yang marah atas ketidak mauan MARJO bertanggung jawab. Dengan alasan malu, itu aib yang tidak perlu diberitahukan kesemuanya, yang intinya tidak mau bertanggung jawab. Berlatar di sebuah rumah atau kontrakan MARJO. Dan Ini cerita yang menarik, karena moral dan agama selama ini menjadi hambatan. Dan dalam cerita ini, Pak bidin yang kelihatan orang yang pinter suka bercanda dan slengek.an itu dibuat marah atas apa yang sudah dikorbankannya mulai dari membantu biaya kuliah marjo, kehidupan keluarga marjo tetapi nyatanya menurut pak bidin itu tidak dihargai, karena juga pak bidin ingin menjodohkan anaknya dengan marjo, disitu martabat seorang orang tua mulai tidak dihargai, di injak-injak. Pak bidin pulang dengan marah-marah, dan amarah itupun pindah ke Bapak hingga mendorong marjo jatuh kelantai dimana amarah seorang bapak yang sudah memuncak tanpa bisa terkendali dengan kekecewaan yang sudah terlalu banyak dirasakannya

 

Psikologi

Bapak dan Ibu yang malu merasa gagal mendidik anak, MARJO yang merusak semua cita-cita di masa depan, Ani yang tidak dapat menjaga kesucian dirinya, Pak Bidin yang merasa dihina dengan apa yang telah diberikan tetapi dibalas dengan tidak sepantasnya. Itu semua adalah keadaan psikologis yang mereka rasakan. Mengenai dampak, pasti itu akan berdampak secara kehidupan, dimana berdampak di lingkungan itu sendiri.

Di akhir cerita ini permasalahan pasangan MARJO dan Ani masih menggantung dimana harapan sutradara biarkanlah penonton yang menyimpulkan akhir adegan ini mau dibawah kemana.

Demikianlah  pementasan study teater nisbi pada tgl 27 mei 2016, didalam pementasan ini selain pelajaran dari isi cerita dan proses keaktoran, artistik. Kami juga mendapatkan pelajaran dari kepanitiaan yaitu hasil bukanlah sebuah nilai akhir dari sebuah pertunjukan, tetapi nilai sesungguhnya berada pada proses. Proses yang baik adalah ketika segalanya siap untuk di tindaki.

Kami akan selalu siap karna NISBI !!! KAMI !!!                 

Terimakasih,

Tata Panggung

Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata, tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita, kehendak artistik sutradara, dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. dan inilah yag dilakukan teaterNISBI bersama himastra uniga malang untuk acara tanggal 6 mei 2015IMG_20150604_210257